Tampilkan postingan dengan label Bumi Bulat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bumi Bulat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Mei 2017

MENGENAL PENEMU GAYA GRAVITASI, AL-BIRUNI


Namanya tak diragukan lagi di pentas sains dan ilmu pengetahuan abad pertengahan. Dunia ilmu pengetahuan mengenalnya sebagai salah seorang putra Islam terbaik dalam bidang filsafat, astronomi, kedokteran, dan fisika. Wawasan pengetahuannya yang demikian luas, menempatkannya sebagai pakar dan ilmuwan Muslim terbesar awal abad pertengahan. Ilmuwan itu tak lain adalah Al Biruni.
            ”Dia adalah salah satu ilmuwan terbesar dalam seluruh sejarah manusia.” Begitulah AI Sabra menjuluki Al-Biruni — ilmuwan Muslim serba bisa dari abad ke-10 M. Bapak Sejarah Sains Barat, George Sarton pun begitu mengagumi kiprah dan pencapaian Al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.
            Sejarah mencatat, Al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.
            Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, Al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Di era keemasan Islam, Al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi.
            Selain itu, Al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, Al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains. Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samanid itu merupakan salah satu pelopor merote saintifik eksperimental.
            Ilmuwan kondang itu bernama lengkap Abu Rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni. Dia terlahir menjelang terbit fajar pada 4 September 973 M di kota Kath – sekarang adalah kota Khiva – di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, yang merupakan ibukota kerajaan Khawarizm, Turkmenistan. Ia lebih dikenal dengan nama Al Biruni.
            Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Al Biruni tumbuh dan besar dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Meski tak banyak diketahui tentang masa mudanya, termasuk pendidikan formalnya, namun ulama yang tawadlu ini dikenal amat mencintai ilmu dan gemar membaca dan menulis sejak remaja. Tak heran bila kemudian masih di usia muda ia sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu.
            Kepiawaian dan kecerdasan Al-Biruni merangsang dirinya mendalami sekitar ilmu astronomi. Ia misalnya memberikan perhatian yang besar terhadap kemungkinan gerak bumi mengitari matahari. Sayangnya, bukunya yang membicarakan soal ini hilang. Namun ia berpendapat, sepertipernah ia sampaikan dalam suratnya kepada Ibnu Sina, bahwa gerak eliptis lebih mungkin daripada gerak melingkar pada planet. Al-Biruni konsisten mempertahankan pendapatnya tersebut, dan ternyata di kemudian hari terbukti kebenarannya menurut ilmu astronomi modern.
            Prestasi paling menonjol di bidang fisika ilmuwan Muslim yang pertama kali memperkenalkan permainan catur ke negeri-negeri Islam ini adalah tentang penghitungan akurat mengenai timbangan 18 batu. Selain itu, ia juga menemukan konsep bahwa cahaya lebih cepat dari suara. Dalam kaitan ini, Al-Biruni membantah beberapa prinsip fisika Aristotelian seperti tentang gerak gravitasi langit, gerak edar langit, tempat alamiah benda serta masalah kontinuitas dan diskontinuitas materi dan ruang.
            Dalam membantah dalil kontinuitas materi yang menyatakan, benda dapat terus-menerus dibagi secara tak terhingga, Al-Biruni menjelaskan bahwa jika dalil itu benar tentu benda yang bergerak cepat tidak akan pernah menyusul benda yang mendahuluinya, namun bergerak lambat.
            Kenyataannya, urai Al-Biruni, dalam pengamatan kita, benda yang bergerak cepat dapat menyusul benda yang mendahuluinya seperti bulan yang mendahului matahari karena gerak bulan jauh lebih cepat daripada matahari. Lalu Al-Biruni menjelaskan bahwa alangkah hinanya jika kita menafikan pengamatan atas kenyataan itu.
            Sebagai seorang fisikawan, A1-Biruni memberikan sumbangan penting bagi pengukuran jenis berat (specific gravity) berbagai zat dengan hasil perhitungan yang cermat dan akurat. Konsep ini sesuai dengan prinsip dasar yang ia yakini bahwa seluruh benda tertarik oleh gaya gravitasi bumi.
Teori ini merupakan pintu gerbang menuju hukum-hukum Newton 500 tahun kemudian. Al Biruni juga mengajukan hipotesa tentang rotasi bumi di sekeliling sumbunya. Konsep ini lalu dimatangkan dan diformulasikan oleh Galileo Galilei 600 tahun setelah wafatnya Al Biruni.
            Selama hidupnya, dia juga menghasilkan karya besar dalam bidang astronomi lewat Masudic Canon yang didedikasikan kepada putera Mahmud bernama Ma’sud. Atas karyanya itu, Ma’sud menghadiahkan seekor gajah yang bermuatan penuh dengan perak. Namun, Al-Biruni mengembalikan hadiah yang diterimanya itu ke kas negara.
            Sebagai bentuk penghargaan, Ma’sud juga menjamin Al-Biruni dengan uang pensiun yang bisa membuatnya tenang beristirahat serta terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Dia juga berhasil menulis buku astrologi berjudul The Elements of Astrology. Selain itu, sang ilmuwan itu pun menulis sederet karya dalam bidang kedokteran, geografi, serta fisika. Al-Biruni wafat di usia 75 tahun tepatnya pada 13 Desember 1048 M di kota Ghazna. Untuk tetap mengenang jasanya, para astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan.
Sumbangan Sang Ilmuwan
* Astronomi
            ”Dia telah menulis risalah tentang astrolabe serta memformulasi tabel astronomi untuk Sultan Ma’sud,”papar Will Durant tentang kontribusi Al-Biruni dalam bidang astronomi. Selain itu, Al-Biruni juga telah berjasa menuliskan risalah tentang planisphere dan armillary sphere. Al-Biruni juga menegaskan bahwa bumi itu itu berbentuk bulat.
            Al-Biruni tercatat sebagai astronom yang melakukan percobaan yang berhubungan dengan penomena astronomi. Dia menduga bahwa Galaksi Milky Way (Bima Sakti) sebagai kupulan sejumlah bintang. Pada 1031 M, dia merampungkan ensiklopedia astronomi yang sangat panjang berjudul Kitab Al-Qanun Al Mas’udi.
* Astrologi
            Dia merupakan ilmuwan yang pertama kali membedakan istilah astronomi dengan astrologi. Hal itu dilakukannya pada abad ke-11 M. Dia juga menghasilkan beberapa karya yang penting dalam bidang astrologi.
*Ilmu Bumi
            Al-Biruni juga menghasilkan sejumlah sumbangan bagi pengembangan Ilmu Bumi. Atas perannya itulah dia dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Dia juga memberi kontribusi signifikan dalam kartografi, geografi, geologi, serta   mineralogi.
*Kartografi
            Kartografi adalah ilmu tentang membuat peta atau globe. Pada usia 22 tahun, Al-Biruni telah menulis karya penting dalam kartografi, yakni sebuah studi tentang proyeksi pembuatan peta.
* Geodesi dan Geografi
            Pada usia 17 tahun, Al-Biruni sudah mampu menghitung garis lintang Kath Khawarzmi dengan menggunakan ketinggian matahari. ”Kontribusi penting dalam geodesi dan geografi telah dibuat disumbangkan Al-Biruni. Dia telah memperkenalkan teknik mengukur bumi dan jaraknya menggunakan triangulasi,” papar John J O’Connor dan Edmund F Robertson dalam 
MacTutor History of Mathematics.
* Geologi
            Al-Biruni juga telah menghasilkan karya dalam bidang geologi. Salah satunya, dia menulis tentang geologi India.
* Mineralogi
            Dalam kitabnya berjudul 
Kitab al-Jawahir atau Book of Precious Stones, Al-Biruni menjelaskan beragam mineral. Dia mengklasifikasi setiap mineral berdasarkan warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.
* Metode Sains
            Al-Biruni juga berperan dalam memperkenalkan metode saintifik dalam setiap bidang yang dipelajarinya. Salah satu contohnya, dalam 
Kitab al-Jamahir dia tergolong ilmuwan yang sangat eksperimental.
* Optik
            Dalam bidang optik, Al-Biruni termasuk ilmuwan yang pertama bersama Ibnu Al-Haitham yang mengkaji dan mempelajari ilmu optik. Dialah yang pertama menemukan bahwa kecepatan cahaya lebih cepat dari kecepatan suara.
*Matematika
            Dia memberikan sumbangan yang signifikan bagi pengembangan matematika, khususnya dalam bidang teori dan praktik aritmatika, bilangan irasional, teori rasio, geometri dan lainnya. 

Sumber :
http://rumahislam.com/ensi/3-ilmuwan-muslim/596-al-biruni-penemu-gaya-gravitasi.html
https://www.gaulislam.com/al-biruni-ilmuwan-pendiri-tiga-ilmu


Share:

Minggu, 30 April 2017

BUKAN GALILEO, NAMUN AL-SIJZI YANG MENEMUKAN TEORI HELIOSENTRIS

Al-Sijzi yang nama lengkapnya Abu Said Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Jalil al-Sijzi merupakan seorang ilmuwan yang ahli di bidang astronomi dan matematika. Dia dilahirkan pada tahun 945 di Sijistan, Persia. Dia merupakan ilmuwan yang dikenal dekat dengan Al Biruni yang juga ahli astronomi dan matematika. Salah satu bukti bahwa Al-Sijzi berhubungan dekat dengan Al-Biruni adalah adanya surat yang dikirimkan oleh Al-Biruni kepada Al-Sijzi. Surat tersebut berisi bukti-bukti dari pesawat dan bola versi teorema sinus.
Al Sijzi yang bekerja di Syiraz melakukan pengamatan astronomi selama tahun 969 hingga 970. Pengamatan astronomi Al Sijzi membuahkan teori Heliosentris yang menggemparkan dunia pada masa itu. Pemikiran Al Sijzi mengenai sistem heliosentris dapat dilihat dari karya-karya Al Biruni yang sering bertukar pikiran dengannya. Dalam karya Al Biruni yang berjudul Isti'ab Al-Wujuh Al-Mumkina fi San'at Al-Usturlab yang berisi tentang astronomi dan astrolabe, Al Biruni mengatakan, dia telah melihat astrolabe yang ditemukan Abu Sa'id Al Sijzi. Astrolabe ini hanyalah satu-satunya dari barang sejenis. Astrolabe tersebut tidak tersusun dari bagian utara dan bagian selatan. Dia sangat menyukai astrolabe tersebut karena benda tersebut memiliki beberapa efek sehingga pergerakan disaksikan disebabkan oleh bumi, bukan langit.



Contoh Astrolabe

Penggunaan Astrolabe
Sementara itu, seorang ilmuwan ahli astronomi lain yang bernama Abu Al Hasan Al Marakushi dalam bukunya yang berjudul Jami Al Mabadi wa Al Ghayat (Pemersatu prinsip-prinsip dan akibat-akibat) menyatakan, astrolabe Al Sijzi dibuat berdasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari berdasarkan teori Heliosentris yang menyatakan bahwa bumi berbentuk bulat serta berputar mengelilingi sumbunya, beserta planet lainnya beredar mengelilingi matahari. Hal tersebut membuktikan bahwa Al Sijzi merupakan penemu teori Heliosentris yang masih diragukan kebenarannya oleh banyak orang pada masa itu, termasuk umat Muslim pada masa itu sendiri. Menurut catatan sejarah yang dikutip dalam buku berjudul Para Tokoh Sejarah Klasik, pada saat Al Sijzi menyatakan gagasannya tentang teori Heliosentris, dia banyak mendapatkan kritikan dari para ilmuwan Muslim lainnya termasuk Ibn Sina yang sangat termasyhur dalam bidang kedokteran dan Fakhr al-Din al-Razi, seorang ilmuwan Persia yang ahli dalam bidang kedokteran, fisika, astrologi, hukum dan sejarah.
Bahkan Al Biruni sendiri yang sering bertukar ide dan pikiran baik dalam bidang astronomi maupun matematika dengan Al Sijzi, sebenarnya ragu dengan teori Heliosentris Al Sijzi. Meskipun dia merupakan ilmuwan yang kelihatannya menerima teori yang dikemukakan oleh teman baiknya tersebut.
Al Biruni menyebut matahari dan sistem geosentrik dalam karyanya yang berjudul Kitab Al Hind dan Al Qanun Al mas'udi yang berisi tentang astronomi. Dalam karyanya tersebut, dia menyatakan, sebenarnya pergerakan bumi tidak merusak nilai astronomi karena semua penampilan suatu karakter astronomi dapat dijelaskan manurut teori Heliosentris sebagaimana juga bagi yang lain. Tetapi terdapat alasan-alasan lain yang menjadikannya mustahil. Masalah tersebut sungguh sulit dipecahkan. Para astronom kuno maupun modern yang paling hebat sekalipun sudah mempelajari masalah pergerakan bumi dan mencoba membantahnya. Al Biruni juga menulis buku berjudul Miftah Ilm Al Hay'ah (Kunci Ilmu Astronomi) yang berisi masalah tersebut.
Saat bekerja di Shiraz, Al Sijzi tidak hanya menghabiskan waktu untuk memperdalam ilmu astronomi saja. Di sana, dia banyak menuliskan karya-karya matematika. Selain menuliskan karya-karya aslinya sendiri, dia juga menyalin karya ilmuwan matematika yang lain, Tsabit bin Qurra yang karyanya berupa risalah segi empat lengkap. Dia juga memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu matematika dengan melakukan studi khusus tentang persimpangan bagian-bagian kerucut dan lingkaran-lingkaran. Dia juga mengganti teori persimpangan gerak sebuah sudut dengan menggunakan pemecahan geometri. Dia menulis risalah pemecahan masalah geometri. Di antara masalah-masalah yang dibahas dalam bukunya tersebut adalah lingkaran dan segitiga.
Dalam sebuah risalahnya tentang bola, dia menuliskan tentang pengukuran bola. Selain itu dalam risalahnya itu terdapat 12 teorema yang isinya menginvestigasi sebuah bola besar yang berisi satu hingga tiga bola kecil. Karyanya ini mengungkapkan ide Al Sijzi tentang empat dimensi bola yang dibuat pada tahun 969 masehi ketika dia masih sangat muda.

Demikian sedikit ilmu yang dapat aku bagi untuk kalian.
Wallahhu a'lam. Wassalamu'alaikum

Sumber :
http://www.zulfanafdhilla.com/2013/04/biografi-al-sijzi-penemu-teori.html




Share:

Sabtu, 29 April 2017

MASYA ALLAH, TERBUKTI BUMI BULAT DALAM AL-QUR’AN

Apa bayangan anda jika di zaman modern seperti saat ini masih ada yang berfikir bahwa bumi itu datar dan tidak bulat. Berikut pendapat para ilmuan non muslim dari berbagai Negara dan agama yang berkeyakinan bahwa bumi itu datar :
Teori yang mengatakan bahwa Bumi itu datar banyak diyakini oleh berbagai macam budaya seperti Babilonia kuno, India, Cina, dan Jepang kuno. Teori Bumi datar menyatakan bahwa Bumi berbentuk datar (flat). Pada periode awal Mesir dan Mesopotamia menganggap Bumi digambarkan sebagai piringan datar yang mengambang di laut. Gambaran tentang hal itu ditemukan dalam catatan Homer dari abad ke 8 SM di mana “Okeanos, dipersonifikasikan dari air yang mengelilingi permukaan lingkaran bumi. Bumi adalah piringan pipih yang mengambang di atas air. Tulisan pada Piramida dan Coffin mengungkapkan bahwa orang Mesir kuno percaya Nun (Samudera) adalah sebuah bentuk melingkar mengelilingi nbwt (arti istilah “lahan kering” atau “Kepulauan”)
Beberapa penganut teori Bumi Datar mengacu pada kepercayaan yang terdapat pada kitab suci. Samuel Shenton merupakan salah satu diantara orang modern yang meganut paham bahwa Bumi itu datar. ia membentuk International Flat Earth Research Society (IFERS) pada tahun 1956 untuk mendukung kepercayaannya itu. Setelah kematian Samuel Shenton pada 1971, Presiden organisasi itu dijabat oleh Charles K Johnson. Ia mengatakan bahwa jika Bumi Bundar, maka seharusnya permukaan air juga melengkung, dan setelah melakukan penelitian, ia tidak menemukan lengkungan tersebut di air danau Tahoe dan laut Salton. Setelah kematian Charles K Johnson pada tahun 2001, organisasi tersebut mulai memudar. Salah satu Presiden dari Flat Earth Society pernah mengatakan bahwa pendaratan manusia di Bulan adalah tipuan yang dilakukan di studio Hollywood, Gaya gravitasi merupakan suatu kekuatan mistis dan sebagainya. Mohammed Yusuf, pendiri sekte Islam Boko Haram di Nigeria, menyatakan keyakinannya bahwa Bumi itu datar dan banyak lagi tokoh yang menyatakan bahwa bentuk Bumi iu datar.
           Namun seiring dengan perkembangan dunia teknologi yang semakin canggih dan kemampuan manusia untuk pergi ke luar angkasa untuk mengambil foto Bumi dari atas atmosfer memberikan bukti jelas bahwa bentuk Bumi adalah bundar seperti bola. ( lihat di astronomi.us )
Dan ini dibuktikan dengan firman :
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ/ الزمر [٣٩]: ٥.
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. – Q.S. Az-Zumar [39]: 5).
Menurut Ar-Raghib Al-Asfihani dalam “Al-Mufradah fi Gharib Al-Qur’an” kata كَوَّرَ , fiil madli, yang fiil mudlarinya يُكَوِّرُ seperti ayat di atas mengandung pengertian “mengitari benda-benda bulat dan menutupkan sebagian kepada sebagian yang lain seperti mengitarkan surban.”
Jadi melalui ayat ini secara tersirat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada manusia bahwa bumi itu bulat tidak seperti kepercayaan mayoritas manusia saat Al-Quran diturunkan bahwa bumi itu datar.  ( alquin)
Ketika peradaban Islam datang, para Ilmuwan Muslim melakukan riset dan menguatkan teori bahwa bumi itu bulat. Menurut Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, sebab paling penting dalam masalah ini di samping ayat di atas (Q.S. Az-Zumar [39], 5) juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا/ النازعات [٧٩]: ٣٠.

(Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. – Q.S. An-Nazi’at [79]: 30).

Kata دَحَى) daha dalam bahasa arab berarti sebagaimana juga terdapat ayat-ayat yang membicarakan tentang kebulatan dan perputarannya mengitari dirinya yang menyebabkan perputaran siang dan malam.
Ibnu Kardzabah (204-272 H), seorang ahli sejarah geografi mengatakan, “Bumi itu berputar sebagaimana putaran bola, tempatnya seperti kuning telur dalam tengah telur.”
Ibnu Rustah (300 H), seorang pakar geografi dari Isfahan mengatakan, “Allah meletakkan galaksi berputar seperti berputarnya bola, tengah-tengah perputaran, bumi juga berputar dan tempat diamnya di tengah galaksi tata surya.”
Tentang bulatnya bumi dinisbatkan kepada Al-Makmun (218 H) salah seorang khilafah Dinasti Abbasiyah. Dialah yang pertama kali melakukan percobaan analogi memisahkan bola bumi (globe). Dia mendatangkan dua kelompok ilmuwan astronomi dan geografi. Satu kelompok di bawah pimpinan Sanad bin Ali, seorang ahli perbintangan, matematika dan falak yang beragama Yahudi kemudian Islam dan kelompok satunya di bawah pimpinan Ali bin Isa Al-Astrolobe, seorang ahli matematika dan falak yang cukup terkenal di Baghdad. Ada yang mengatakan salah satu pimpinan dua kelompok itu adalah anak Musa bin Syakir.
Mereka mengambil kesepakatan dua kelompok ini pergi ke suatu tempat yang berbeda arah di atas perputaran kulit yang meliputi bumi dari timur ke barat, kemudian menghitung ukuran ketentuan derajat satu dari garis-garis panjang (yang mencapai 360 garis panjang).
Al-Idrisi (1100-1166 M), seorang ahli geografi yang berhasil menggambar peta bumi mengatakan, “Bumi itu berbentuk bulat seperti bulatnya bola. Sedangkan air menempel, tidak mengalir (tumpah) di atasnya secara alamiah tidak terpisah dari padanya. Bumi dan air sesuatu yang tetap di ufuk galaksi sebagaimana kuning telur dalam cangkang putihnya, meletakkan keduanya dalam tata letak yang seimbang, dan angin bertiup (yang dimaksud cuaca udara) dari seluruh arah sudutnya.”

Peta gambar oleh Al-Idrisi



Dari peta-peta yang digambar oleh Al-Idrisi, Will Durant mengatakan, “Peta ini paling hebat dari nilai-nilai pemikiran ilmu gambar peta pada abad pertengahan. Belum pernah ada peta yang digambar lebih sempurna sebelum itu; lebih detil, lebih luas dan lebih besar secara terperinci. Al-Idrisi salah seorang yang menguatkan teori tentang bumi bulat dan dapatlah diketahui bahwa fakta ini merupakan sesuatu yang dapat diterima kebenarannya.”
Ulama lain yang sependapat bumi itu bulat adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (1263-1328 M) tokoh salafi yang mengatakan, “Ketahuilah, bahwa mereka (para ulama) sepakat bahwa bentuk bumi itu bulat yang ada di bawah bumi hanyalah tengah dan paling bawahnya adalah pusat.”
Ibnu Khaldun (1332-1406 M) berkata, “Ketahuilah, sudah jelas di kitab-kitab para ilmuwan dan para peneliti tentang alam bahwa bumi berbentuk bulat.”
Walaupun berdasarkan berbagai penelitian membuktikan bahwa bumi itu berbentuk bulat, namun para ulama tetap menghargai orang berbeda pendapat dengan mereka.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hazm ketika menukilkan kesepakatan ulama tentang bulatnya bumi, “Mereka mengatakan, Sesungguhnya petunjuk-petunjuk telah membuktikan bahwa bumi itu bulat. Sementara secara umum ada yang mengatakan selain itu. Jawaban kami dengan petunjuk Allah, sesungguhnya dari kalangan para ulama Islam yang berhak disebut pioner dalam ilmu tidak mengingkari bumi ini bulat. Tidak salah orang yang menolak pendapatnya.

Demikian sedikit ilmu yang dapat aku bagi untuk kalian.
Wallahhu a'lam. Wassalamu'alaikum

Sumber :



Share: